Showing posts with label keilmuan. Show all posts
Showing posts with label keilmuan. Show all posts

Sejenak Bersama Rasulullah (Tangga/Carta kehidupan)



Google Image
Rasulullah Saw Ketika hendak bepergian selalu menyalami satu persatu dari keluarga beliau sebagai tanda minta diri, terakhir yang disalaminya adalah Sayyidah Fatimah Zahra' karena dari rumah Fatimah lah safar Rasulullah dimulai. Adapun ketika kembali dari safar Sayyidah Fatimah menjadi orang pertama yang Rasulullah jumpai.
Pada suatu hari Sayyidina Ali r.a. melakukan safar dengan pulang membawa beberapa harta benda (nganimah) dan menyerahkan kepada istrinya Sayyidatina Fatimah. Sayyidah Fatimah membeli dengan harta ghanimah tersebut beberapa gelang dari perak dan memakainya serta sepotong kain dan menggantungkannya sebagai sitar (gorden) diatas pintunya.
Ketika Rasulullah Saw kembali dari safar, seperti biasanya Beliau lansung menjumpai putrinya Sayyidatina Fatimah, bergegas lah Fatimah menyambut kedatangan ayahandanya dengan suka cita penuh kerinduan. Rasulullah melihat kepada Fatimah dan menemukan ditangannya gelang-gelang dari perak, dan sepotong kain tergantung sebagai sitar diatas pintunya, ketika itu Rasulullah tidak berucap apa-apa hanya berdiam saja.
Ketika Rasulullah Saw beranjak pergi dari rumah Fatimah, Fatimah merasa sedih dan menangis seraya berkata :
"Rasulullah tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya kepadaku... !"
Sayyidatina Fatimah melepaskan gelang-gelang dari perak ditangannya dan mencopot sitar yang ada di atas pintunya, kemudian memanggil anaknya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen serta memberikan kepada salah satu dari mereka gelang dan pada yang lain kain, kemudian meyuruh mendatangi kakek Mereka mengirimkan salam dari ibunya Sayyidah Fatimah dan menyerahkan gelang serta kain tersebut, dan mengatakan : "kami tidak akan melakukan hal ini lagi ".
Sayyidina Hasan dan Husen mendatangi Rasulullah dengan membawa gelang dan kain sitar dari ibunda mereka Sayyidah Fatimah, Rasulullah mencium kedua cucunya tersebut dan mendudukkan mereka di pangkuan beliau. Kemudian menyuruh tukang tempah perak untuk menhancurkan gelang tersebut dan menjadikannya potongan-potongan perak dan memanggil para Ahli Suffah[1] untuk dibagikan kepada mereka potongan perak tadi. Kemudian memanggil seorang yang tidak memiliki pakain sama sekali dan mengukur sesuai ukuran orang tersebut untuk di jadikan pakaian yang menutupi auratnya.
Kemudian Rasulullah memerintahkan kepada para jama'ah wanita jika mereka dalam Shalat agar tidak mendahulukan jama'ah laki-laki untuk bangun dari sujud ataupun ruku’, karena minimnya kain penutup aurat laki-laki. Sehingga jadilah sunnah mutawatirah akan ketidakbolehan bagi wanita mendahului laki-laki dalam mengangkat kepala ketika ruku’ dan sujud.
Rasulullah bersabda : "rahimallah Fatimah, semoga Allah menggantikan sitar ini dengan sitar surga, dan memakaikan nya perhiasan dari perhiasan surga."
Kalau kita melihat kisah ini hanya dengan menggunakan mata telanjang dan segumpal isi dalam tempurung kepala kita, maka kita akan mengatakan begini : "bukankah setiap orang memiliki hak kebebasan dalam membelanjakan setiap harta yang dia miliki sesuai dengan keinginan dia...? Adapun yang dilakukan Sayyidatina Fatimah tidaklah salah karena itu di bolehkan oleh syariat, dan juga sangat diterima oleh akal sehat.”
Bukan Sayyidatina Fatimah namanya jika harus berbuat sebuah kesalahan, walau beliau tidaklah makshum. Akan tetapi apa yang beliau lakukan, seperti membeli sepotong kain sebagai gorden, dan beberapa gelang dari perak karena itu adalah hal yang sangat biasa. Yang jadi pertanyaannya adalah kenapa Rasulullah tidak menyetujui atas apa yang di lakukan putrinya Fatimah r.a...?
Jawabannya diketahui oleh Sayyidatina Fatimah dengan mengirim gelang dan kain sitar kepada Rasulullah untuk di infakkan kepada yang membutuhkannya.
Dari kisah tadi kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa tidaklah dilarang bagi seseorang untuk membeli perhiasan bagi dirinya dan sesuatu yang bermamfaat lainnya. Akan tetapi dengan sikap dan tindakan beliau mengajarkan kita agar tidak melupakan mereka-mereka yang miskin disekitar kita, para fakir yang bahkan untuk makan saja susah apalagi membeli perhiasan.
Berikutnya jika kita lihat dari pandangan yang lebih mendalam, kita bisa menemukan hikmah lain, yang mana pelajaran ini di tujukan lebih khusus kepada mereka yang mengemban amanah sebagai Khalifah Allah dalam menyampaikan segala bentuk Risalah ilahi, dan berbagai kepentingan Agama. Kenapa bisa dikhususkan demikian..? "Karena mereka adalah pemuka dan pemimpin umat Islam."
Seorang pemimpin atau penghulu yang melihat kepada masyarakatnya dengan mata qudwah dan uswah, mereka akan rela berkorban melebihi dari orang lain, rela hidup sederhana demi kemakmuran masyarkat madani yang di pimpinnya.
Begitulah yang di ajarkan kepada kita oleh sosok pemimpin tangguh, tulen dan efektif baginda Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wasallam tidak ridha ketika melihat putrinya menggantung sepotong kain gorden diatas pintunya dan memakai gelang dari perak ditangan untuk menghias diri di depan suaminya sedangkan para umatnya hidup dalam keadaan fakir bahkan pakaian untuk menutup aurat saja tidak memiliki.
Perjalan kita tadi bersama Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam sangatlah menyentuh dan mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang pemimpin yang adil menjalani kehidupannya, seorang yang hidup dermawan terhadap hartanya, seorang yang punya kedudukan dalam masyarakat terhadap orang sekitar, bahwa bagi mereka agar tidak memikirkan kebutuhan pribadi dibandingkan kebutuhan masyarakat pada umumnya , bagi dia harus saling bahu-membahu, bantu-membantu dalam mewujudkan masyarakat yang makmur dan tentram.
Karena dengan segala sifat qudwah dan uswah hasanah lah derajat manusia akan tinggi. Waallahu'alam.[2]








[1] orang fakir muhajirin yang tidak memiliki rumah dan harta benda
[2]
*Dikutip dari kitab Seratus Pancaran Cahaya Dari Kehidupan Baginda Nabi Muhammad SAW

Sejenak Bersama Rasulullah (Pelajaran Keimanan)


Google Image
Ketika Rasulullah Shallahu alaihi wasallam berada dirumah Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha, pada saat Ummu Salamah memasuki kamarnya beliau tidak mendapati Rasulullah disana, beliau mencari di seputaran rumah dan mendapati Rasulullah berada di sudut lain rumah sedang bermunajat kepada Allah dengan terisak seraya berucap :

“ya Allah… kekalkan lah kepadaku setiap kebaikan yang sudah engkau anugerahkan kepadaku dan jangan pernah Engkau mengharamkannya dariku…
ya Allah… janganlah Engkau meninggalkanku dengan segala urusanku, membiarkan diriku hidup tanpa bimbingan dari-Mu…
ya Allah… janganlah Engkau biarkan musuh-musuhku dan para pendengki memperoleh kemenangan atas diriku…
ya Allah… janganlah Engkau membalikkan hatiku kepada kesesatan yang telah engkau buka kepada kebaikan…
ya Allah… jadikanlah diriku senantiasa pada jalan-Mu jalannya para nabi-Mu, dan orang-orang shaleh sebelumku…”
Ummu Salamah tidak ingin mengganggu munajat Rasulullah dan memilih menyimak kata perkata dari doa Rasulullah, setelah mendengar setiap kalimat dari munajat Rasulullah Ummu Salamah menitikkan air mata sebagaimana Rasulullah menangis terisak dalam munajat-nya tadi.
Rasulullah bertanya : “apa gerangan yang membuat dirimu menangis wahai Ummu Salamah…?”

“ya Rasulullah… engkau adalah seorang yang derajatnya sangat tinggi di sisi Allah, dan Allah telah menjamin pengampunan atas setiap dosa mu yang telah berlalu dan yang akan datang, dan engkau berdoa kepada Allah agar selalu menjagamu dan membimbingmu…
selalu menjauhkanmu dari keburukan… senantiasa menganugerahkan kebaikan kepadamu…
bagaimana denganku wahai Rasulullah…? Derajatku  sangat jauh jika di bandingkan dengan engkau… aku hanya manusia biasa yang kapan saja bisa terjerumus kepada dosa…
tidak dengan engkau… karena itu aku menangis wahai Nabi Allah…” jawab Ummu salamah.
Rasulullah berkata : “wahai ummu salamah… tidak ada yang membuatku aman kecuali penjagaan Allah akan diriku… Allah telah menbiarkan Yunus ‘alaihissalam sekejap dalam wewenang dirinya… dan apa yang terjadi kita sudah mengetahuinya “
Dari sejenak kita bersama Rasulullah tadi kita bisa menilai siapa diri kita, dan ternyata kita tidak lebih hanyalah manusia… Manusia seperti apakah kita…?
Manusia yang sering beranggapan dirinya sudah selamat dihari kelak ketika mereka sudah beriman saja, dan yakin surga sudah jadi tempatnya…?
sangaaaaat jauh… dan sangat jauh…
Sungguh sangat menyedihkan jika kita beranggapan demikian, selamat dari api neraka, sedangkan Rasulullah saw. yang sangat agung dan tinggi derajatnya, tindakan dan perkataannya adalah wahyu… Beliau terus menerus bermunajat kepada Allah sang penguasa semesta dengan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya, berdoa dengan penuh kerendahan diri meminta agar dirinya selalu berada pada jalan yang lurus, dan cahaya keimanan selalu menerangi hatinya… semua yang Rasulullah lakukan semata hanya ingin mencapai keridhaan dari Allah swt. Yang mana akan membuahkan akhir yang baik. Iman kita dengan iman Rasulullah sangatlah jauh berbeda, kita berada belapis-lapis dibawah kerak bumi sedangkan Rasulullah di tingkat paling tinggi sehingga tiada kata yang sampai kepada tingkatan tersebut.
Sejarah sudah mengabadikan sangat banyak kejadian yang dimana manusia sering menyimpang dari jalan lurus yang dulunya ia adalah seorang yang menjunjung tinggi hakikat keimanan, akan tetapi ketika dia sudah merasa mampu membimbing dirinya mulailah dunia menyeretnya kedalam kesesatan dan menenggelamkannya ke dasar lautan orang-orang yang lalai. Rasulullah mengambil contoh dari sikap beliau tersebut berdasarkan apa yang sejarah rekam, dimana saat Nabi Yunus ‘alaihissalam mengambil jalan keluar atas inisiatif dirinya untuk pergi meninggalkan kaumnya dan apa yang terjadi beliau di telan oleh ikat paus dan mengalami kesusahan padahal beliau hanya sesaat melakukan pekerjaan atas keinginannya tanpa bimbingan dari Allah. Ini adalah panggilan hati, panggilan kesadaran kepada seluruh orang mukmin agar selalu berpangku kepada Allah dan tidak pernah tertipu dengan apa yang terlihat oleh mata, karena syaithan selalu bermain dan memperindah setiap amalan manusia sehingga dia menilai orang lain atau dirinya sudah berhak masuk surga dan nereka sangat jauh darinya…
Kita selaku manusia hendaklah selalu meminta taufik dari Allah walupun iman kita setinggi langit dan jangan terpedaya dengan itu sehingga segala amal kita bukan menjadi pahala akan tetapi maksiat. Nauzdubillah…
Jika saja kita bisa memposisikan diri kita dalam setiap tindakan sebagaimana yang Rasulullah teladankan apalagi dalam masalah keimanan niscaya tempat yang paling pantas bagi kita adalah berada bersama para auliya’ dan orang-orang shaleh. Adakah di antara kita yang imannya melampaui iman Rasulullah…?

Waallahu’alam.
    


Bijak Dalam Berdoa




Google image
Seorang murid bertanya pada sang guru dalam sebuah majlis :
"ya syekh... bukankah doa orang yang terdhalimi itu tidak ada hijab...? kami sering mendengar di khutbah-khutbah
pada hari jum'at dari sebagian khatib mendo'akan kehancuran, mendo'akan kebinasaan, dan mencaci Bashar Assad...! atau presiden-presiden diktator negara lainnya..."
Terlihat dari raut wajah syekh perasaan kecewa saat mendengar pertanyaan tersebut dari muridnya, tapi apalah guna seorang guru jika bukan untuk membimbing muridnya. Beliau berkata :
"wahai anak-anak ku... biarkan mereka dengan apa yang mereka katakan, kamu tidak mampu jika hendak mengubah para khatib itu tapi ubahlah cara kita menyikapi dan memahami makna dari hadist Rasulullah yang bahwa doa orang terdhalimi tidak ada hijab sehingga ketika nantinya kamu jadi khatib kamu tidak demikian ceroboh dalam berkata dan berucap. Bukan kah sebaiknya kita doakan agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada mereka sehingga kediktatorannya di gunakan kepada penerapan syariat Allah... mendoakan agar sifat keras dan bengisnya di gunakan untuk merobohkan setiap benteng musuh islam... mendoakan agar sifat tiraninya di gunakan untuk mendapatkan kembali tanah haram kita yang ketiga Al Quds... bijaksanalah dalam bersikap wahai anak-anak ku…”
Bukankah ini lebih baik ketimbang kita mencaci dan melaknat diatas mimbar yang dimana disana berdirinya sang pembawa Risalah Ilahi, yang memangku jabatan utusan Tuhan, memikul beban umat sepanjang zaman, menjadi guru untuk seluruh manusia hitam atau putih warna mereka, sang panglima yang dari lisan-nya menyadarkan pemilik kekaisaran Romawi bahwa mereka tidak akan berdaya jiak berhadapan dengan-nya, sang pemimpin yang di lindungi bukan karena takut akan kekejaman-nya tapi karena dari pembawaannya yang tenang dihiasi seuntai senyum di bibirnya sehingga di cintai oleh shahabat lebih dari mencintai diri sendiri, sang pemimpin yang setiap tetes keringatnya menjadi kasturi umatnya, sang raja yang selalu menjadikan yang kuat pelindung bagi lemah dan lemah selalu mendapatkan haknya. Beliau adalah Muhammad Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.... pernahkah kita mendengar dari lisan beliau sebuah kata cacian...? laknat...? kenapa kita yang di berikan nikmat lisan para Nabi (khatib) menyimpang pada apa yang Beliau bawa...? bukankah beliau selalu bertutur kata lembut...? kenapa kita mesti manafsirkan hadist Rasulullah bukan sebagaimana yang beliau inginkan...? bukankah kita para pembawa panji Rasulullah warisan dari para Shahabat-nya...? karena itu ubahlah sikap sombong kita menjadi penolong setidaknya mengangkat tangan dan menengadah kelangit dengan rendah diri dan berkata :
"Ya Allah... berikanlah kepada kami hidayah dan orang-orang yang hidup dengan kami walau berbeda ras dan kulit, berpisah jarak lautan atau daratan, berbeda tingkatan dan derajat, tinggikanlah derajat kami di dunia dan akhirat... tuntunlah pemimpin kami yang telah engkau berikan kepadanya kerajaan-Mu di bumi kepada kebaikan dan integritas yang tinggi, karena Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki... dan janganlah Engkau binasakan kami karena buruknya akhlak orang-orang di sekitar kami... berikanlah hidayah-Mu kepada mereka dan kami... Ya Allah Engkau kuasa atas segalanya… Qudrah-Mu diatas segala qudrah, tidak ada tempat berlindung kecuali dibawah payung-Mu dan payung Nabi-Mu... Jika Engkau tidak melindungi kami sungguh kami berada pada golongan yang merugi... kepada-Mu kami bertawakkal ya Allah Sang Pengasih dan Penyayang di dunia dan Akhirat..."
Lantas adakah alasan lagi bagi kita kecuali sama-sama bermuhasabah dan berdo'a dengan baik-baik...? kadang kita merasa benar padahal hakikatnya salah kemudian mendapat teguran dari teman atau orang sekitar yang dimata kita mereka rendah atau sedikit agamanya sehingga kita enggan untuk bertaubat karena sombong dan angkuh. Dimana posisi kita jika dibandingkan dengan sayyidina Umar ibnu Khattab yang setiap waktu selalu menitikkan air mata hanya karena kekhilafan yang beliau lakukan, padahal khilaf beliau karena Ijtihad yang beliau lakukan dan amal seseorang berdasarkan niatnya, adapun Ijtihad jika salah mendapatkan satu pahala dan jika benar dua pahala ( satu pahala karena melakukan dengan metode yang benar (manhaj islami), dua pahala karena melengkapinya dengan ajaran Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah).
Cukuplah dengan satu hadist ini untuk membuat kita sadar kenapa Islam bisa menaklukkan kakaisaran Roma dan Persia pada masa shahabat Radhiallahu ‘anhum sedangkan kita tidak melakukan apa-apa kecuali saling menghujat yang tiada akhir, jangan menyalahkan orang lain tapi salahkan diri kita yang tidak bisa melakukan apa-apa disaat musuh agama datang dari segala penjuru. Rasulullah bersabar dan melarang malaikat menghancurkan penduduk Thaif saat orang-orangnya melempari beliau dengan batu dan berkata :
"aku berharap semoga Allah memberikan hidayah dan menjadikan dari keturunan mereka orang-orang yang selalu mengingat Allah... ya Allah tunjukkan lah hidayah kepada kaum ku… sesungguhnya mereka dalam keadaan tidak mengetahui..."
Masihkah kita ragu untuk berdoa dengan doa yang baik... Rasulullah berdoa dengan kebaikan kepada ahli thaif yang masa itu masih dalam keadaan kafir... sedangkan sekarang yang kita doakan saudara kita se-Islam... Rasulullah tidaklah di utus kecuali untuk menyempurnakan akhlak…

Mari kita bersikap bijaksana dalam berdo’a dan jangan sia-siakan doa kita dengan keburukan...
Ya Allah hanya ini yang sanggup di jangkau oleh nalar pikiran ku atas perkataan ulama-Mu dan apa yang aku lihat dari pendirian dan keyakinan mereka yang sampai pada penglihatan ku… Bimbinglah kami selalu… Aamieen. Waallahua'lam[1]






[1] Sedikit intisari dari apa yang bisa kita pelajari dari sikap bijak ulama Rabbani Syekh Sa'id Ramadhan Al-buty dalam mengambil dalam menyikapi situasi zaman fitnah, dan atas jawaban syekh Hisyam kamil agar selalu mendo'kan orang dengan kebaikan.

Sejenak Bersama Rasulullah (Hidup Istimewa Penuh Berkah)




Google Image
Seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw. Membawakan uang sebesar 12 dirham, pada saat itu baju Rasulullah sudah usang. Rasulullah Saw berkata kepada sayyidina Ali as. : 
"wahai Ali, belanjakanlah dengan uang ini sepotong baju untukku."
Sayyina Ali radhiyallah anhu menceritakan : "aku mendatangi pasar dan membelikan sebuah baju dengan harga 12 dirham dan menyerahkannya kepada Rasulullah, sesaat Rasulullah memperhatikan baju tersebut dan berkata : "wahai Ali, bukan seperti ini yang aku sukai, apakah penjual itu mau kalau saja kita kembalikan baju ini..?"
Ali menjawab : "aku tidak tahu wahai Rasulullah"
Rasul berkata : "temui dia"
"aku mendatangi penjual baju tadi dan mengatakan kepadanya bahwa Rasulullah tidak menyukainya, beliau menginginkan baju yang lebih murah harganya, apakah engkau mau mengembalikan uang kami ?, dia mengembalikan uang kepadaku. Kemudian aku membawakan uang 12 dirham tersebut kepada Rasulullah, serta merta beliau berangkat bersamaku kepasar untuk membeli baju, pada saat berjalan beliau melihat ada seorang budak perempuan sedang menangis duduk di pinggir jalan, Rasulullah bertanya kepadanya : "apa yang membuat engkau menangis ?"
"wahai Rasululullah...keluargaku memberikanku uang 4 dirham untuk membelikan keperluan buat mereka, dan sekarang uangnya hilang, aku tidak berani pulang..." jawab budak tersebut.
Rasulullah memberikan budak tersebut 4 dirham seraya berkata : "pulanglah ke keluargamu !"
Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan beliau kepasar dan membeli baju baru dengan harga 4 dirham dan memakainya kemudian mengatakan “Alhamdulillah”.
Ketika Rasulullah keluar dari pasar beliau melihat seorang laki-laki yang tidak memiliki baju berkata : "barangsiapa yang memakaikan aku baju, semoga Allah memakaikannya baju dari surga." 
Rasulullah melepaskan baju yang baru beliau beli tadi dan memberikan kepada orang telanjang tersebut. Kemudian beliau kembali kepasar dan membeli baju lain dengan uang yang tersisa 4 dirham kemudian memakainya dan bertahmid. 
Ketika Rasulullah hendak menuju rumah, beliau melihat budak tadi masih duduk menangis di pinggir jalan Rasulullah bertanya : 
"kenapa engkau belum kembali kepada keluargamu..?"
"aku telah membuat mereka lama menunggu, aku takut mereka akan memukulku." jawab si budak.
"mari pulang bersamaku dan tunjukkan dimana rumah tuanmu"
Rasulullah mendatangi rumah tuan budak tersebut hingga sampai di depan pintu beliau berkata: "assalamu'alaikum"
Kali pertama tidak ada jawaban, hingga beliau mengulangi, pada kali ketiga terdengarlah jawaban dari dalam rumah : 
"wa'alaikassalam ya Rasulullah warahmatullahi wabarakatuhu"
Rasulullah bertanya kepada mereka : 
"kenapa kalian tidak menjawab salamku pada kali pertama dan kedua..?"
"wahai Rasulullah, kami mendengar salam darimu dan kami suka mendengar suaramu, karena itu kami ingin engkau mengulanginya "jawab mereka.
Rasulullah Saw berkata : "budak ini telah membuat kalian lama menunggu, janganlah kalian menghukumnya"
Mereka berkata : "kumerdekakan dia  wahai Rasulullah atas kedatangan dirimu bersamanya.."
Rasulullah berkata : "aku belum pernah melihat uang 12 dirham yang keberkahannya lebih besar dari 12 dirham ini, memakaikan pada dua orang baju, dan memerdekakan seorang budak."
Dari kebersamaan kita tadi bersama Sayyidina wa maulana Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam, memberikan kita ilham bahwa Rasulullah bukanlah tidak menyukai akan baju yang pertama hanya karena harganya, akan tetapi beliau ingin mencontohkan kepada kita bagaimana menjadi pribadi perfeksionis, mengajarkan kita cara hidup yang sempurna di iringi dengan penuh keistimewaan dan keberkahan. Bukanlah sebuah keharusan memakai sesuatu yang bernilai tinggi, yang menjadi keharusan adalah berakhlak yang baik dan berbudi tinggi. Tidaklah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu memperhatikan penampakan lahir kita, tapi perhatikanlah tingkah dan laku kita, apakah kita sudah berakhlak mulia...?
Dari sisi lain kisah ini kita bisa melihat bahwa Rasulullah tidak lah memikirkan segala sesuatu hanya untuk mashlahah[1] beliau sendiri, akan tetapi setiap langkah dan perjalanan beliau yang penuh berkah menceritakan kepada kita akan setiap usaha Rasulullah dalam memberikan mamfaat dan kebaikan kepada orang lain.
Dan yang paling penting, "kehidupan Rasulullah selalu berkaitan dangan masyarakat sekitar secara lansung, seperti membantu sesama dalam memenuhi kebutuhan, dan memberikan pertolongan kepada mereka.
Apapun yang beliau lakukan itu tidak akan menjatuhkan beliau dari kedudukan seorang Nabi yang mulia... Karena untuk itu itulah beliau di utus.
Rasulullah Saw bersabda : "sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak."
Wallahu a'lam.[2]





[1] Keuntungan pribadi
[2] Dikutip dari kitab Seratus Pancaran Cahaya Dari Kehidupan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sejenak Bersama Rasulullah (Pemimpin Penunjuk Kepada Kebaikan Dan Penyelamat Dari Kegelepan)




Google Image




Lima tahun sebelum kedatangan Islam para pemuka Quraisy memutuskan untuk melakukan renovasi atau lebih tepatnya membangun kembali bangunan ka'bah.
Merupakan sebuah kehormatan bagi mereka kabilah Quraisy bisa berkecimpung dalam pembangunan Ka'bah. Oleh karena itu mulailah dari mereka membagi tugas dalam pelaksanaannya. Pada bagian pintu Ka'bah menjadi tanggung jawab bani Abdi Manaf dan bani Zuhrah, untuk bagian antara Ruknul aswad dan Ruknul yamani menjadi tanggung jawab bani Makhzum dan beberapa kabilah kecil Quraisy, untuk bani Jumah dan Sahm mendapatkan dibagian atap ka'bah, sedangkan untuk bagian antara Hijir Isma'il menjadi alih tangan bani Abdud Dar bin Qusay dan bani Asad bin Al Izzy bin Qusay bersama dengan bani 'Adiy bin Ka'ab bin Luay.

Setelah segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk pembangunan dari perabotan hingga penghancuran sisa-sisa ka'bah yang rusak, mulailah mereka melakukan pembangunan kembali Ka'bah. Pada  saat proses pembangunan sedang berlansung, sampailah pada Rukn tempat diletakkannya Hajar Aswad, proses pembangun terhenti karena terjadi perselisihan antara mereka akan siapa yang pantas mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada posisi semula ?.

Semua kabilah menginginkan kemulian mengangkat Hajar Aswad ini, tanpa ada dari satu kabilah pun yang mau mengalah demi mendapatkan kehormatan ini. Perkara Hajar Aswad kini sudah mencapai saat-saat genting yang tidak memiliki solusi lagi bahkan ada beberapa kabilah yang sudah mengumumkan perang saudara. Tidak mau kalah bani Abdud dar pun melakukan sumpah setia yang rela mati dalam memperebutkan posisi tersebut dengan memasukkan tangan kedalam bejana yang penuh dengan darah, itu semua terjadi tidak lain hanya demi ingin memperoleh kehormatan dalam meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula.

Masa dead-lock berjalan hingga empat sampai lima hari tanpa menemukan titik terang yang di setujui semua kabilah. Berkumpullah para pemuka Quraisy melakukan musyarawah besar membahas masalah yang sangat pelik tersebut, tersebutlah seorang yang bernama Abu Umayyah bin Al mughirah yang pada saat itu paling tua diantara para pembesar Quraisy (ada yang meriwayatkan bernama Mahsyam bin Almughirah yang di beri kun-yah Abu Huzaifah), Abu Umayyah mencoba memberi solusi : 

"wahai para Quraisy, serahkanlah keputusan peletakan Hajar Aswad itu pada orang yang pertama sekali memasuki pintu ini (seraya menunjuk kepintu Shafar)."
Semua yang hadir pada musyawarah tersebut menyetujui akan keputusan Abu Umayyah, dan mereka mulai menunggu siapa yang pertama masuk akan pintu tersebut.
Wal hasil, siapakah orang tersebut..?

Orang pertama yang memasuki pintu tersebut beliau adalah baginda nabi Muhammad Saw., ketika mereka melihat ada yang memasukinya sontak semua berteriak :
"ini dia Al Amin yang terpercaya, kami ridha atas segala keputusannya."
Mereka menceritakan akan segala perihal yang terjadi sehingga melihat Nabi Muhammad memasuki pintu Shafar dan menjadikannya orang yang akan meletakkan Hajar Aswad.

Rasulullah saw berkata : "bawakanlah kepadaku sepotong kain".

Kemudian beliau mengambil Hajar Aswad dengan Tangan mulianya dan meletakkan ditengah kain tersebut dan berkata : 

"hendaklah bagi setiap pemimpin kabilah memegang di sudut kain, dan angkatlah bersama-sama...!".

Hajar Aswad sudah berada diatas kain, kemudian diambil oleh Rasulullah dan meletakkannya pada Ruknul Aswad tempatnya semula, kemudian para kaum Quraisy kembali melanjutkan pembangunan Ka'bah yang sempat terhenti.

Sebelum kita melangkah terlalu jauh dalam mensifatkan tentang Nabi kita Muhammad Saw kita harus menyakini dulu bahwa beliau di utus oleh Allah Swt sebagai pemberi kabar gembira bagi seluruh umat manusia dan pemberi peringatan akan azab yang sangat pedih nantinya di Akhirat bagi mereka yang tidak beriman.

Tidak dapat diragukan lagi akan terpilihnya Nabi Muhammad Saw sebagai Rasulullah sangat cocok dengan pribadi beliau yang cerdas, memiliki kedudukan yang tinggi dan berbagai kelebihan lainnya, sehingga beliau mampu dalam mengatasi setiap permasalahan yang akan menimpa beliau dan kaum-nya Shallahu 'alaihi wasallam.

Sikap bijak Rasulullah Saw dalam menyelesaikan perselisihan yang timbul ketika peletakan Hajar Aswad menjadi salah satu bukti kebijaksanaan dan kecerdesan beliau yang penuh hikmah, dimana pada saat itu Rasulullah Saw mampu menghidupkan budaya cinta perdamaian dan membumi hanguskan akidah pertumpahan darah yang telah mengalir disetiap pembuluh darah bangsa Arab saat itu, hanya dengan menggunakan tindakan yang sangat sederhana yang jarang terpikir oleh orang banyak.

Dari Rihlah kita bersama Rasulullah Saw tadi kita bisa menanamkan pada diri kita akar yang kuat kesetiap centi dari titik hati kita bahwa Rasulullah Saw Rahmatan lil'alamin rahmat bagi sekalian alam, walaupun sebelum beliau di utus untuk menyampaikan Risalah kerasulan. Beliau selalu memiliki misi dalam mengglobalkan perdamaian, membudayakan keadilan dan menghidupkan pundi-pundi cinta akan sesame makhluk.

Tidak ada pujian yang bisa di jangkau oleh lisan kita yang sampai pada derajat kemulian Rasulullah kecuali apa ang Allah firmankan dalam Alqur’an “wa innaka la ‘ala khuluqin adhim”, beliau adalah sang pemimpin pemberi petunjuk kepada kebaikan, sang penyelamat dari kegelepan mata dan hati.
Waallahu 'alam.[1]



[1] *Dikutip dari kitab Seratus Pancaran Cahaya Dari Kehidupan Baginda Nabi Muhammad SAW.